Wednesday, October 24, 2007

keluarga bahagia sejahtera berdasar pancasila


ini lah keluargaku, ketika pada april 2007 yang lalu ke jakarta dalam rangka undangan penganugerahan INU Kencana, Dosen IPDN yang membongkar kejahatan dan kekerasan di kampus calon PNS tersebut. jalan-jalan naik bus way keliling jakarta.

Monday, October 22, 2007

lihatlah poligami rosulullah

Rasulullah Baru Poligami di Usia 51 Tahun

Sepeninggal Khadijah r. A., Rasulullah SAW sangat bersedih hati. Namun kesedihan ini tidak dipendam lama-lama karena dakwah Islam yang masih berusia sangat muda memerlukan penanganan yang teramat serius. Sebab itu, Rasulullah SAW memerlukan pendamping hidup sepeninggal Khadijah r. A. Maka beliau pun, atas izin Allah SWT, menikah kembali. Inilah keutamaan pernikahan-pernikahan yang dilakukan Rasulullah SAW sepeninggal Khadijah r. A. Seperti yang ditulis oleh Dr. M. Syafii Antonio, M. Ec dalam buku “The Super Leader Super Manager: Learn How to Succeed in Business & Life From The Best Example” (ProLM;Agustus 2007). Inilah petikannya:

Saudah binti Zum’ah

Ketika dilamar Rasulullah SAW, Saudah telah berusia 70 tahun dengan 12 anak. Perempuan berkulit hitam dari Sudan ini merupakan janda dari sahabat Nabi bernama As-Sukran bin Amral Al-Anshari yang menemui syahid keran menjadikan dirinya perisai hidup bagi Rasulullah di medan perang. Rasulullah yang ketika melamar Saudah telah berusia 56 tahun menikahi wanita itu agar Saudah bisa terjaga keimanannya dan terhindar dari gangguan kaum Musyirikin yang tengah hebat-hebatnya memusuhi umat Islam yang ketika itu masih sangat sedikit jumlahnya.

Zainab binti Jahsy

Tak lama setelah menikahi Saudah, Rasulullah mendapat perintah dari allah SWT untuk menikahi Zainab binti Jahsy, seorang janda berusia 45 tahun yang berasal dari keluarga terhormat. Pernikahan dengan Zainab ini merupakan suatu pelaksanaan perintah Allah SWT bahwa pernikahan haruslah sekufu. Zainab merupakan mantan isteri dari Zaid bin Haritsah.

Ummu Salamah binti Abu Umayyah

Setelah menikahi Saudah dan Zainab, Rasulullah kembali mendapat perintah Allah SWT agar menikahi puteri dari bibinya yang pandai mengajar dan juga pandai berpidato. Ummu Salamah binti Abu Umayyah, seorang janda berusia 62 tahun. Setelah menikah dengan Rasulullah SAW, Ummu Salamah kelak banyak membantu Nabi dalam medan dakwah dan pendidikan bagi kaum perempuan.

Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan

Dalam pengembangan dakwah Islam yang masih sangat terbatas, umat Islam mendapat cobaan ketika salah seorang darinya, Ubaidillah bin Jahsy, murtad dan menjadi seorang Nasrani. Secara syar’i, murtadnya Ubaidillah ini menyebabkan haram dan putusnya ikatan suami-isteri dengan Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan. Untuk menyelamatkan akidah janda berusia 47 tahun ini, Rasulullah mengambil langkah cepat dengan menikahi Ummu Habibah. Kelak langkah Rasulullah SAW ini terbukti tepat dengan aktifnya Ummu Habibah di dalam menunjang dakwah Islam.

Juwairiyyah binti Al-Harits al-Khuzaiyyah

Juwairiyyah adalah seorang janda berusia 65 tahun dengan 17 anak. Perempuan ini merupakan budak dan tawanan perang yang dibebaskan Rasulullah. Setelah dibebaskan Rasulullah SAW, Juwairiyyah dengan ke-17 orang anaknya tentu akan kebingungan karena dia sama sekali tidak memiliki seorang kerabat pun. Allah SWT memerintahkan Nabi SAW agar menikahi perempuan ini sebagai petunjuk agar manusia mau membebaskan budak dan memerdekakannya dari perbudakan dan penghambaan kepada selain Allah SWT.

Shafiyyah binti Hayyi Akhtab

Setahun setelahnya, saat berusia 58 tahun, Rasulullah kembali menikahi Shafiyah binti Hayyi Akhtab, seorang janda dua kali berusia 53 tahun dan memiliki 10 orang anak dari pernikahan sebelumnya. Shafiyyah merupakan seorang perempuan Muslimah dari kabilah Yahudi Bani Nadhir. KeIslaman Shafiyyah diboikot orang-orang Yahudi lainnya. Untuk menolong janda tua dengan 10 orang anak inilah Rasulullah SAW menikahinya.

Maimunah binti Al-Harits

Dakwah Islam tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang Arab semata, tetapi juga kepada manusia lainnya termasuk kepada orang-orang Yahudi. Sebab itu, Rasulullah kemudian menikahi Maimunah binti Al-Harits, seorang janda berusia 63 tahun, yang berasal dari kabilah Yahudi Bani Kinanah. Pernikahan ini dilakukan semata untuk mengembangkan dakwah Islam di kalangan Yahudi Bani Nadhir.

Zainab binti Khuzaimah bin Harits

Zainab binti Khuzaimah merupakan seorang janda bersuia 50 tahun yang sangat dermawan dan banyak mengumpulkan anak-anak yatim, orang-orang lemah, serta para fakir miskin di rumahnya, sehingga masyarakat sekitar menjulukinya sebagai “Ibu Fakir Miskin”. Guna mendukung secara aktif aktivitas janda tua ini maka Rasulullah menikahinya. Dengan pernikahannya ini Rasulullah ingin mencontohkan kepada umat-Nya agar mau bersama-sama menyantuni anak-anak yatim dan orang-orang lemah, bahkan dengan hidup dan kehidupannya sendiri.

Mariyah al-Kibtiyyah

Setelah delapan pernikahannya dengan para janda-janda tua dengan banyak anak, barulah Rasulullah SAW menikahi seorang gadis bernama Mariyah al-Kibtiyah. Namun pernikahannya ini pun bertujuan untuk memerdekakan Mariyah dan menjaga iman Islamnya. Mariyah merupakan seorang budak berusia 25 tahun yang dihadiahkan oleh Raja Muqauqis dari Iskandariyah Mesir.

Hafshah binti Umar bin Khattab

Dia merupakan puteri dari Umar bin Khattab, seorang janda pahlawan perang Uhud yang telah berusia 35 tahun. Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk menikahi perempuan mulia ini karena Hafshah merupakan salah seorang perempuan pertama di dalam Islam yang hafal dengan seluruh surat dan ayat al-Qur’an (Hafidzah). Pernikahan ini dimaksudkan agar keotentikan al-Qur’an bisa tetap terjaga.

Aisyah binti Abu Bakar

Puteri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ini merupakan seorang perempuan muda yang cantik, cerdas, dan penuh izzah. Allah SWT memerintahkan langsung kepada Rasululah SAW agar menikahi gadis ini. Pernikahan Rasululah dengan Aisyah r. A. Merupakan perintah langsung Allah SWT kepada Rasulullah SAW lewat mimpi yang sama tiga malam berturut-turut (Hadits Bukhari Muslim). Tentang usia pernikahan Aisyah yang katanya masih berusia 9 tahun, ini hanya berdasar satu hadits dhaif yang diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah saat beliau sudah ada di Iraq, dalam usia yang sangat tua dan daya ingatnya sudah jauh menurun. Mengenai Hisyam, Ya’qub ibn Syaibah berkata, “Apa yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang dipaparkannya ketika ia sudah pindah ke Iraq. ” Malik ibnu anas pun menolak segala penuturan Hisyam yang sudah berada di Iraq.

Oleh para orientalis, hadits dhaif ini sengaja dibesar-besarkan untuk menjelek-jelekan Rasulullah SAW. Padahal menurut kajian-kajian semacam al-Maktabah Al-Athriyyah (jilid 4 hal 301) dan juga kajian perjalanan hidup keluarga dan anak-anak dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka akan diperoleh keterangan kuat bahwa Asiyah sesungguhnya telah berusia 19-20 tahun ketika menikah dengan Rasululah SAW. Suatu usia yang cukup matang uhtuk menikah.

Bagi yang mau lebih jauh menelusuri tentang keterangan ini silakan menelusuri Tarikh al-Mamluk (Jilid 4, hal. 50) dari at-Thabari, Muassasah al-Risalah (Jilid. 2 hal. 289) dari Al-Zahabi, dan sumber-sumber ini dituliskan kembali oleh Dr. M. Syafii Antonio, M. Ec dalam buku “The Super Leader Super Manager: Learn How to Succeed in Business & Life From The Best Example” (ProLM;Agustus 2007). Jadi tidak benar tudingan dan fitnah para orientalis bahwa Rasulullah menikahi Aisyah di saat gadis itu masih berusia sangat belia.

Inilah pernikahan-pernikahan agung yang dilakukan Rasulullah SAW. Beliau banyak menikahi para janda tua dengan banyak anak sebelum menikah dengan dua gadis (Mariyyah dan Aisyah), itu pun atas perintah Allah SWT dan di saat usia Beliau sudah tidak muda lagi. Poligami yang diajarkan, yang disunnahkan Rasulullah SAW adalah poligami yang berdasarkan syariat yang sejati, bukan berdasar akal-akalan, bukan berdasarkan syahwat yang berlindung di balik ayat-ayat Allah SWT.

Jika sekarang banyak sekali orang-orang Islam yang melakukan poligami, mengambil isteri kedua, isteri ketiga, dan isteri keempat, yang semuanya masih gadis, cantik, muda usia, dan sesungguhnya tidak berada dalam kondisi yang memerlukan pertolongan darurat terkait keimanannya, maka hal itu berpulang kepada mereka masing-masing. Adakah poligami yang demikian itu sesuai dengan poligami yang dilakukan dan dijalani Rasululah SAW? Silakan tanya pada hati nurani masing-masing, karena hati nurani tidak pernah mampu untuk berbohong.

Tuesday, October 16, 2007

USAINYA BULAN KERINDUAN

SETIAP HABIS RAMADHAN

Bulan Ramadhan telah kita lewati, umat Islam seluruh dunia bersuka cita merayakan Idul Fitri seiring ucapan Taqabbala-llahu Minnaa Waminkum, 'Semoga Allah menerima (amaliyah Ramadhan) diriku dan dirimu." Meski jatuhnya hari raya berbeda-beda, namun perbedaan itu tidak mengurangi kemeriahan dan kebahagiaan menyambut hari yang fitri, hari di mana setiap orang bermaaf-maafan untuk kembali menjadi manusia yang bersih dan suci. Wallahualam...

Ada yang gembira dengan usainya bulan Ramadhan. Tapi ada juga yang sedih karena bulan mulia itu telah berlalu, seperti yang selalu dirasakan para sahabat Rasulullah di masa lalu. Sebagian besar dari kita mungkin tidak merasakan kesedihan itu, karena luapan rasa gembira merayakan Idul Fitri yang dinanti, yang oleh sebagian besar masyarakat Muslim diidentikan dengan "pesta" makanan lezat dan "pesta" belanja baju baru, sepatu baru, cat rumah baru dan sebagainnya yang mengarah pada sikap konsumtif. Sehingga kita luput merasakan nikmat bulan penuh berkah, bulan Ramadhan.

Yang kita rasakan mungkin rasa lega, karena setelah Ramadhan lewat, tidak perlu lagi menahan lapar dahaga, tak perlu lagi menahan emosi.

Para sahabat Rasulullah justeru merasa sedih dan cemas ketika Ramadhan usai karena mereka memahami dan menghayati betul apa nilai bulan Ramadhan. Bagi mereka, dengan usainya Ramadhan, maka tak ada lagi hari-hari istimewa yang penuh berkah di mana Allah swt melimpahkan rahmah, ampunan dan pahala berlipat ganda dibandingkan hari biasa. Tak ada lagi nuansa relijius yangpekat untuk lebih mendekatkan diri pada Allah swt. Mereka bersedihkarena belum tentu tahun depan, Allah swt berkenan mempertemukan mereka kembali dengan bulan Ramadhan.

Dengan usainya Ramadhan, para sahabat merasa cemas karena takut amalan-amalan Ramadhan mereka tidak sempurna sehingga mendapatkan penilaian rendah bahkan tidak diterima sama sekali oleh Allah swt. Padahal, belum tentu tahun depan mereka bisa merasakan lagi kemuliaan bulan suci Ramadhan.

Subhanallah, jika melihat orang-orang yang bertaqwa menyikapi berlalunya bulan Ramadhan. Di kelompok manakah kita berada, pernahkah terlintas, meski sedikit, di benak kita rasa sedih menjelang perpisahan dengan bulan Ramadhan dan komitmen apa yang kita buat usai Ramadhan? Jawaban itu tentu ada di hati kita masing-masing.

Bulan Ramadhan adalah bulan penempaan jasmani dan rohani. Idealnya, setelah mengalami penempaan sebulah penuh, kondisi jasmani dan rohani kita jauh lebih baik dari sebelumnya. Yang sulit adalah bagaimana mempertahankan hasil tempaan yang terwujud dalam perilaku dan meningkatnya ketaqwaan pada Allah swt. Oleh sebab itu, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menyempurnakan Ramadhan mereka misalnya dengan berpuasa selama enam hari pascabulan Ramadhan, yang kita kenal dengan puasa syawal.

Sabda Rasulullah yang terkenal menyebutkan, "Barang siapa yang berpuasa selama bulan Ramadhan dan diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, hal itu layaknya berpuasa satu tahun lamanya. " (HR Muslim).

Ah, alangkah beruntungnya jika kita benar-benar menghayati makna bulan Ramadhan. Meski Ramadhan bukan satu-satunya gerbang untuk berbuat kebajikan, namun kualitas ibadah Ramadhan kita menjadi penentu bagaimana kehidupan kita di sebelas bulan berikunya, lebih baikkah atau justru lebih buruk.

Begitu besarnya dampak bulan Ramadhan bagi kehidupan kaum Muslimin, sehingga justru ada yang sangat merindukan datangnya bulan Ramadhan dan berharap sepanjang tahun adalah Ramadhan.

Dan di sela-sela takbir dan tahmid menyambut Idul Fitri kemarin, bait-bait puisi Taufik Ismail yang dinyanyikan dalam bentuk lagu oleh Bimbo ikut menggema di relung hati...

Setiap habis Ramadhan Hamba rindu lagi Ramadhan Saat - saat padat beribadah Tak terhingga nilai mahalnya

Setiap habis Ramadhan Hamba cemas kalau tak sampai Umur hamba di tahun depan Berilah hamba kesempatan

Setiap habis Ramadhan Rindu hamba tak pernah menghilang Mohon tambah umur setahun lagi Berilah hamba kesempatan

Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan Sekeluarga, sekampung, senegara Kaum muslimin dan muslimat se dunia Seluruhnya kumpul di persatukan Dalam memohon ridho-Nya

Selamat jalan bulan yang suci, semoga Allah swt berkenan mempertemukan kita kembali di tahun depan...

Thursday, October 4, 2007

yang terakhir

tahun 2000 aku putuskan out dari hingar bingar dunia broadcast, dengan mengorbankan pemasukan materi berupag gaji yang tidak seberapa, aku tinggalkan sobat-sobatku, 4 reporterku yang manja. segalanya utk konsentrasi skripsi dan urus anak. Lho...? ya wong tahun 98 aku dah nikah, masih aktif kuliah, jadi bikin skripsi sambil urus anak, ujiannya juga sambil bawa anak. sampailah di assalaam pertengahan tahun 2001, ngajar aqidah akhlak dan fiqih. sampe sekarang. alhamdulillah... Allah masih menerangiku dengan memberiku kesempatan untuk menjadi muslim sejati.....

let me introduce (the series)

akhirnya lulus dari pondok ini tahun '93, lanjutkan kuliah di UMM MAlang. pertama kuliah ditawari oleh kepala jurusan Dra. Magdalena asmayasari untuk datang ke RRI Malang ketemu dengan Koordinator BKSU, Badan Koordinasi Siaran Universitaria, Ibu Dra. Kartini. di RRI dikenalkan dengan bapak Ali Sukamto, diajari beberapa menit untuk bisa menjadi penyiar radio, maka dengan modal suara yang BOMBASSTIS tadi, jadilah suara Bazzku mewarnai jagad udara kota Malang di acara Universitaria RRI Malang.  
suara gelegarku bisa didengar setiap hari rabu jam 1 siang. sampai akhirnya aku bisa menyingkirkan 400 pelamar laki perempuang untuk menempati sebuah posisi di radio komersil. dan....ah... sudahlah. di blog ini  aku kira ga usah terlalu banyak ber introducing, pokoke sampe taon 2000 aku ada di Malang, yang akhirnya membuatku berjiwa malang dan mengalami kekosongan spiritual yang aku dapatkan 4 th di pesantren. bersmbung